Minggu, 25 Desember 2011

Mendaki puncak 29

tepat pada tanggal 23-24 Desember 2011, Sakapala mengadakan sebuah pendakian ke puncak Saptorenggo (Puncak 29) yang berada di deretan pegunungan muria. Pendakian ini diikuti oleh ±50 orang (Peserta kelas X, Kelas XI, kelas XII, Alumni, Pembina, Pendamping, dan Undangan).

Pendakian ini di awali dengan upacara (lebih pantas dipanggil apel) di SMA N 1 Kayen lebih pasti nya di depan masjid Assalamah/ sebelah barat SMA N 1 Kayen pada pukul 14.00WIB, untuk pendakian kali ini dibuka oleh pak Harun Sumarlan, S.Pd selaku pembina Sakapala dan ada satu pembina sakapala yang tidak ikut karena masih sakit tangannya yakni pak Totok Triyono.
setelah dirasa siap dan semuanya sudah tidak ada yang kurang (padahal Bendera tidak di bawa) lalu berangkat menuju sebuah desa terpencil nan jauh dimata dan terletak di lereng gunung muria kudus dan jauh dari pemukiman termasuk sinyal yang amat sangat sulit untuk di dapat (terutama three dan XL terima nasib aja) alias biasa dipanggil dan terkenal dengan nama desa Rahtawu.
sesampainya di sana di Desa Rahtawu kira-kira kalau tidak salah sampai disana pukul 14.30 lalu istirahat sebentar di daerah kepala Desa untuk sholat AShar, istirahat, cerita-cerita, dengerin MP3 atau sebatas beli rambutan. Dikarenakan tengah ada pengajian yang diadakan di masjid tersebut akhirnya semua menunggu sambil mengisi kesibukan mereka dengan bermain-main menjadi ibu-ibu yang suka ngegosip ketika ketemu temannya.... dan setelah usai, maka berbondong-bondonglah peserta pendakian puncak 29 untuk Sholat, yang tidak bawa mukena dan sarung harus bersabar menunggu yang membawa duluan (nasib pinjam).
setelah usai dengan kesibukan pribadi, maka perjalanan dilanjutkan menuju ke titik awal pendakian. tak disangka dan tak diduga oleh siapa-siapa tertnyata ada perbaikan jalan yang membuat kendaraan pribadi tim sakapala tidak mampu untuk meneruska. untuk mempercepat pekerjaan maka turunlah segenap orang untuk membantu menimbun jalan (bahasa jawane ngurug=kerigan) hingga akhirnya mampu dilewati.
akhirnya setelah beberapa lama menunggu sampailah pendaki di titik awal pendakian yang terletak di dekat jembatan di desa rahtawu.. setelah turun, maka semua mengambil barang sendiri-sendiri untuk dibawa mendaki, tak lupa sie konsumsi membagi-bagikan logistik yang isinya ada arem-arem, roti, jeruk, air putih, dll (emang aku dukun yang hafal sampe detail tentang bawaannya). lalu pukul 17.30WIB waktu yang petang akhirnya datang dan mengawali pendakian. dengan semangat 45 memulai pendakian, ternyata TIa Setiani yang ketika di kendaraan kondisinya tidak sedang baik muntah-muntah dan membuat fisiknya down (turun kalau ga ngerti bahasa inggris).
Perjalanan tengah malam terus dilakukan, tak lupa meski awalnya semangat banget untuk mendaki gunung di baru 1/6 pendakian yakni di penghujung desa Rahtawu telah banyak peserta yang mulai ragu dan lelah untuk melanjutkan pendakian. karena sudah kepalang tanggung, biar rasa lelah menanggung perjalanan pun dilanjutkan menuju ke pos 1, di tengah malam yang gulita karena tiada rembulan disana namun masih ada bintang yang siap sedia memberikan jalan dan pemandangan malam yang indah. hanya bermodalkan senter untuk penerangan jalan, memaksa seluruh tim untuk terus berjalan dan berjalan tak kenal menyerah. kalau menyerah tidak boleh menyerah. setelah pengorbanan keras dengan keringat bercucuran akhirnya sampai di pos 1 pada pukul 19.20 WIB tepatnya. waktu itu tampak jelas raut lelah pada setiap peserta pendakian, di waktu itu pak hengky yang merupakan pendamping menyalakan speaker yang di bawanya dari rumah dan di putarlah lagu-lagu dangdut yang lagi hitz di kalangan masyarakat. setelah istirahat dirasa cukup, maka perjalanan pun dilanjutkan menuju ke pos II (dalam bahasa sana disebut Bunton).dengan bermodalkan semangat yang tinggal ½ maka perjalanan diteruskan, perjalanan melewati sungai kecil (kalen) yang memotong jalan pendakian. tak disadari ada diantara peserta yang dihinggapi oleh lintah dan tak berasakan telah mendonorkan darahnya tersebut kepada lintah. di tengah perjalanan ketika ada mata air dimanfaatkan untuk mengisi air. akhirnya pukul 21.00WIB akhirnya sampai juga di pos II, namun pak Harun, pak Rudi, dkk tenryata paling jauh dari perjalanan karena Tia Setiani yang tak kuat tersebut mengakibatkan pak Agus B S harus memapah Tia untuk sampai ke pos II.
setelah sampai disana, mulailah istirahat, cuci kaki, cuci muka, cuci tangan, dan cuci mata. yang merasa lapar memanfaatkannya untuk makan-makan (masak) dengan menggunakan peralatan yang cukup sederhana dengan bermodalkan tempolong softdrink dan bebatuan yang diambil dari pinggiran warung menjadikan sebuah kompor yang dalam Pecinta alam sering disebut kompor lapangan. sebenarnya dalam Bunton tersebut terdapat 2 warung yang menyediakan berbagai kebutuhan pendakian seperti teh anget, jahe, air anget, mie, dll (untuk es teh jangan ditanya pasti tidak kan ada). dan bagi yang tadi dalam perjalanan sempat mendonorkan darahnya mulai mengakhiri donornya tersebut.
waktu sudah menunjukkan pukul 21.30WIB suasana yang cukup sepi sebenarnya, ada yang sudah tampak tertidur, ada yang masih masak, ada yang sedang makan. namun yang tidur harus dibangunkan, yang makan harus cepat dihabiskan, dan yang sedang masak harus ditunda dengan membunuh apinya karena diadakan sharing antar anggota yang dibagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 2 kelas XII dan alumni serta 5,6 orang kelas X dan XI, yang seharusnya menarik dan penuh dengan pertanyaan menjadi tidak terlalu menyenangkan karena disana banyak peserta yang mengantuk atau pendampingnya yang kehabisan cerita. namun karena sudah lama maka sharing pun diakhiri dan semua melanjutkan aktivitas yang sempat mereka tunda tadi( yang makan tidak bisa melanjutkan karena buru-buru dihabiskan).
fajar telah menjelma menandakan kalau perjalanan harus dilanjutkan karena sudah pukul 05.00WIB, maka diawali dengan makan-makan dahulu. dan mengerjakan aktivitas paginya. terjadi sebuah insiden, yakni ketika akan dilakukan sebuah pengabsenan di pagi hari M. Najib Syarofi sempat marah karena tindakan sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dengan sampah yang telah diperbuatnya karena meninggalkan sampahnya begitu saja berserakan di lantai. setelah ketegangan berakhir maka dilanjutkan dengan pengabsenan dan senam pagi serta do'a agar mampu sampai, turun, dan pulang dengan selamat.
perjalanan pun dimulai menuju puncak 29, dan semua berangkat dengan semangat dan keputusasaan bercampur aduk menjadikan bahan bakar bagi pendaki untuk sampai ke puncak. (dilangsung aja ya, karena di perjalan tersebut tidak ada acara menarik selain keputusasaaan dari peserta).
akhirnya waktu menunjukkan pukul 10.00WIB ternyata sudah sampai di perbatasan kabupaten Kudus dengan kabupaten Jepara (puncak 29=gunung saptorenggo).sesampainya di puncak tersebut, suasana semangat mulai muncul disela-sela keputusasaan dari pendaki karena dipuncak tersebut mereka mengekspresikan rasa senang, bangga, bahagia mereka dengan bernarsis ria dalam berfoto-foto, melampiaskan kelelahan mereka. sedangkan untuk pembina dan pendamping lebih memilih untuk mengisi perut mereka di warung yang ada di puncak tersebut. untuk senior melakukan latihan untuk upacara serah terima jabatan dari periode 2010/2011 ke 2011/2012. setelah latihan dirasa cukup maka dilakukanlah upacara pelantikan tersebut. dengan pembina upacara pak harun sumarlan, pemimpin upacara M. Nizam pengatur yakni nikita. dalam upacara tersebut diikuti secara hikmat, pak Harun tidak lupa memberikan kesan dan pesannya kepada semua yang mengikuti upacara kebesaran Sakapala tersebut.
setelah upacara diadakan dan secara resmi pengurus 2011/2012 dilantik maka selesailah sudah waktu di puncak dan diharuskan turun kembali ke truk. lalu semua pun mulai packing (bahasa keren dari berkemas-kemas) lalu turunlah sudah dan kembali ke truk... pukul 16.00WIB dengan ditemani hujan rintik-rintik dan banjir di tengah jalan menemenai perjalanan dan membuat semua pulang ke pangkalan SMA N 1 Kayen tercinta....